CATATAN DARI BALIK DIARY.

Ini catatan yang terselip diantara buku diary-ku yang sudah tertata rapi di lemari perpustakaanku kecil-kecilan.

Sebenarnya ini sekelumit dari catatan perjalanan seorang Jurnalis sekitar lebih dari separo dekade lalu.
Aku & seorang rekan Jurnalis dari media yang sama, melakukan investigasi ke suatu pelosok daerah yang barusan dihuni oleh para transmigran dari wilayah Indonesia Timur.
Perjalanan kesana cukup memakan waktu dikarenakan jarak yang lumayan jauh.

Kami naik sepeda motor sewaan dari seorang kenalan Tukang Ojek di Kota Kabupaten yang berada di Pulau Laut. Untuk mencapai daerah tujuan, kami mesti menyeberang dari pulau ke daratan kalimantan.
Beberapa hari sebelumnya kami mendapatkan informasi dari beberapa warga yang datang dari sana menceritakan, lokasi pemukiman transmigran tersebut berada di kawasan rawan banjir di kaki pegunungan Meratus yang hutannya telah lama dicukur 3/4 gundul oleh perusahaan PMA asal Negeri Ginseng.

Kami pun berangkat agak pagi supaya tiba di tempat tujuan tak terlalu sore.
Kami melewati puluhan kilometer jalan beraspal tipis yang mengelupas di sana sini, serta berlobang. Sepanjang perjalanan ke lokasi, suasana sepi, rumah penduduk jarang terlihat, & nyaris tak berpapasan dengan orang lain. Akhirnya menjelang sore sampailah kami di lokasi. Hujan rintik disertai tiupan angin cukup kencang, kami berhenti di depan gapura menuju lokasi pemukiman transmigran. Di depan kami terbentang jalan tanah liat licin berlumpur, serta digenangi air hujan. Aku membatin, “betapa sengsaranya bagian anak bangsa ini laksana dibuang, sementara para Pejabat enak & aman didalam rumah gedung.”

Naluri jurnalistik kami disertai perasaan solidaritas selaku sesama anak bangsa, memberi kami keputusan untuk membantu dan memberikan jalan keluar atas puluhan kepala keluarga transmigran yang terisolir itu.
Kami berdua pun memacu sepeda motor melewati jalan yang lebih pantas disebut kubangan kerbau itu, hingga pada suatu tempat yang genangan airnya agak dalam, sepeda motor berikut kami penumpangnya hampir tenggelam. Mesin sepeda motor mati, kami basah kuyup, susah payah keluar dari genangan air itu.

Tujuan kami masih belum tampak. “Betapa para Pejabat itu tak punya nurani menempatkan saudaranya sebangsa di tempat seperti ini,” gumamku yang diiyakan oleh rekanku sambil memotret badan jalan.
Kami terpaksa melanjutkan perjalanan dengan menuntun sepeda motor.

Kami pun tiba di pemukiman transmigran yang rumahnya terbuat dari papan tipis tak berkualitas, atap seng dengan ukuran tak lebih besar dari garasi mobil Pejabat. Suasana pemukiman sedang sepi, para penghuninya lebih suka bersembunyi dibalik selimut. Kami pun mencari Kepala Unit Pemukiman yang tinggal di kediaman sekaligus kantornya. Kami diajak meninjau seluruh wilayah pemukiman yang seluruhnya tergenang air setinggi dengkul, untunglah rumah warga itu dibangun dengan diatas tonggak-tonggak yang tingginya lebih dari 1 meter. Tanaman warga baik yang berada di kebun maupun di pekarangan tak luput dari genangan air ; kacang panjang, bayam, ubi kayu, terong, dan tanaman sayur lainnya, serta tanaman obat sekaligus rempah pencampur masakan.
Beberapa warga yang kami temui sedang duduk di beranda, tampak kuyu tak bergairah seperti daun tanaman mereka yang tertunduk layu.
Kepala Unit Pemukiman mengungkapkan kepada kami, Pemda setempat tidak membangun saluran pembuangan air, dan tidak memperbaiki akses jalan. Inilah pangkal utama yang menyebabkan warga terisolir serta ditimpa genangan air. Kami berjanji akan mengkonfirmasi Pemda agar memperhatikan hal tersebut.

Berkat bantuan & panduan Kepala Unit Pemukiman, kami berdua pun dapat meninggalkan lokasi transmigran tanpa melewati jalan sebelumnya.
Hari hampir gelap ketika kami sudah mencapai jalan utama. Kami mesti cepat, berpacu dengan malam untuk mencapai pemukiman terdekat untuk mencari tempat menginap, di rumah warga, atau di tempat ibadah.

Aku mengendarai sepeda motor secepat & semampuku. Karena informasi yang kami dapat dari beberapa warga, tak jarang terjadi peristiwa perampokan di wilayah itu.
Puji Tuhan, menjelang shalat isya sampailah kami berdua di sebuah kota kecamatan. Oh ya, aku belum memperkenalkan siapa rekanku, panggil saja Gemblung, seperti biasa aku memanggilnya, & ia senang saja dengan julukan itu.

Di kota kecil di tepi jalan trans kalimantan jurusan Kaltim itu, terdapat sebuah penginapan sederhana, cukup bersih, double bed, fasilitas listrik PLN, berkipas angin, tanpa perangkat televisi, dan tarifnya dibawah Rp. 50 ribu.
Usai mandi & berganti pakaian, aku & gemblung mencari warung makan untuk mengisi “ruang tengah” yang sudah berjam-jam belum diisi ulang. Usai “dinner” kami pun membeli berbagai keperluan untuk teman mengonsep berita ; obat nyamuk, air mineral, minuman kotak, snack, & tentu saja tak ketinggalan rokok.

Istirahat sejenak sambil menikmati minuman kotak sambil merokok, kami mendiskusikan langkah-langkah untuk konfirmasi ke pihak Pemda terkait hasil investigasi kami. Gemblung dengan seksama mencatat di notesnya ide-ide yang mengalir dari benakku. (Bersambung……)

CATATAN DARI BALIK DIARY (……..sambungan)

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 lewat waktu setempat, beberapa kali sudah mulut ini menguap, “oke, kukira sudah cukup & klop konsep berita serta rancangan taktik konfirmasi yang akan kita lancarkan ke pihak Pemda,” cetusku. Kami pun masing-masing beranjak menuju tempat tidur.
Badan yang penat, ditambah cuaca yang cukup dingin membuat mata cepat terpejam.

Gemblung mengguncang-guncang tubuhku. Aku pun membuka mata sambil bertanya,” jam berapa ?”
“Sudah pagi, sekitar pukul 07.00 lewat,” sahutnya.
Aku bangkit dari tempat tidur, lalu menuju kamar mandi yang berada di bagian belakang penginapan. Aku tidak mandi, cuma cuci muka & sikat gigi.

Semua barang bawaan kami sudah rapi berada dalam ransel. Setelah membereskan urusan penginapan, kami berangkat meninggalkan kota kecamatan itu menuju pulang. Sarapan pagi kami lakukan di sebuah warung di sebuah desa yang kami singgahi saat menuju pulang.
Kami tiba di rumah masing-masing ketika hari menjelang petang. “Oke, besok pagi aku jemput, kita sama-sama menemui Kepala Dinas Transmigrasi,” ujarku saat mengantar Gemblung ke tempat kosnya.

Pagi ini sekitar pukul 09.00 kami sudah berada di kantor Dinas Transmigrasi. Kepala Dinas berkenan menerima kami tanpa menunggu lama.
Sesuai dengan rancangan taktik konfirmasi yang sudah kami atur berdua, pertanyaan demi pertanyaan yang bertubi-tubi bergantian kami lancarkan, akhirnya Kepala Dinas berjanji segera membentuk tim peninjauan & evaluasi terhadap kondisi pemukiman transmigran tersebut. “Secepatnya tim kami turun ke lapangan untuk melakukan evaluasi,” janji Kepala Dinas sambil melap peluh yang keluar dari wajahnya.
“Baiklah pak, kami kira cukup dulu konfirmasi ini. Namun kami tetap akan memantau realisasi pernyataan & janji yang sudah bapak ungkapkan,” ujarku.
Kami pun pamit untuk mencari info baru.

Lebih seminggu sejak kami kembali dari lokasi transmigran & konfirmasi terhadap Kepala Dinas, aku yang sedang berada diluar daerah mendapat kabar via ponsel dari Gemblung yang tidak bersamaku. “Men, pihak Dinas Transmirasi sudah mulai membangun parit saluran air serta memperbaiki jalan ke lokasi transmigran. Aku mendapat kabar ini dari pedagang keliling kenalanku yang barusan melewati lokasi itu,” suara Gemblung jelas di telingaku.
Aku cuma menjawab pemberitahuan temanku itu dengan sepatah kata “ya”, aku terharu sambil membayangkan perjalanan kami ke lokasi transmigran itu. “Terima kasih Tuhan, Engkau telah membantu kami mengabulkan keinginan para saudara kami yang terisolir itu,” batinku.

Aku dan Gemblung sempat sekali lagi ke lokasi transmigran itu. Kini mereka sudah leluasa pulang pergi keluar pemukiman. Tanaman mereka, rumah, halaman, & kebun mereka tak lagi terendam air. Meski mereka tak sempat mengucapkan terima kasih kepada kami, namun kami yakin mereka telah berterima kasih kepada Tuhan. Kami lebih bangga sebagai perantara Tuhan ketimbang mendapat pujian & ucapan terima kasih, & kami hanya menjalankan tugas.

(Catatan ini merupakan true story. Nama & tempat sengaja tak saya tulis sebenarnya untuk keperluan privasi)

CATATAN BELUM BERJUDUL.

Matahari hampir berada tepat di atas kepala, panasnya menyengat, angin kemarau menambah gerah. Mat Garang baru saja terjaga dari tidur, kepalanya masih terasa pening. Malam tadi Mat Garang bersama komplotan preman pasar menghabiskan 6 botol minuman keras merk topi koboy.

Mat Garang beranjak dari tempat tidurnya, kasur tipis kusam berlapis sprei dari spanduk sebuah merk rokok terkenal. Mat Garang melangkah ke balik bilik mencari air & membasuh mukanya. Tinah, wanita berumur 20 tahunan yang menjadi teman hidupnya, tak tampak sosoknya. Mat Garang dan Tinah hidup serumah sejak 5 bulan lalu tanpa ikatan kecuali saling sayang, senasib & saling membutuhkan.

Mat Garang ke Kota Barujadi sejak sekitar 2 tahun lalu, kota yang sedang marak membuka industri pertambangan batubara. Pendidikan Mat Garang yang tak lulus SD & tanpa keahlian, menjadikannya melakukan pekerjaan apa saja asal dapat hasil. Postur Mat Garang yang lumayan besar & kekar memungkinkannya bekerja menggunakan otot ketimbang akalnya. Sedangkan Tinah, wanita muda ini mantan penghuni lokasi pelacuran yang mencoba praktik bebas alias freelance. Ibarat pepatah ‘witing tresno jalaran soko kulino’, Mat Garang & Tinah pun sepakat kumpul bareng.

Pekerjaan Mat Garang yang rutin dilakoninya tiap hari adalah menarik ongkos parkir kendaraan bermotor dari pengunjung Pasar Induk. Selain itu bersama beberapa teman komplotannya, menarik uang keamanan dari warung-warung kopi, kios, & beberapa toko. Adapun Tinah melakoni profesinya sebagai pelacur panggilan yang praktik di tempat-tempat penginapan. Mat Garang juga bertindak sebagai perantara bagi para hidung belang yang sedang kesepian, pun selaku manajer Tinah (keren kan, hehehe).

Mat Garang menghubungi seseorang melalui ponselnya, “Din, gimana suasna di parkiran kamu ?” tanya Mat Garang kepada Udin Botol yang menjaga tempat parkir di halaman Bank Danawarga.
“Lumayan, bos ! Sudah dapet hampir Rp. 30 ribu,” sahut Udin.
“Sip, sebentar aku kesana,” singkat Mat Garang.
Kemudian ia menelpon Tinah, “Say, kamu lagi dimana ?” tanya Mat Garang.
“Aku sedang di Hotel Simpatik, melayani awak kapal penarik tongkang batubara,” balas Tinah.
“Oke, teruskan, aku mau ke parkiran,” kata Mat Garang.

Mat Garang keluar dari rumah kontrakannya, berjalan kaki menuju lokasi Pasar Induk yang berjarak setengah batang rokok dari tempat tinggalnya. Ia mengecek keadaan parkiran di sekitar pasar tersebut, sekalian mencari sarapan yang sekaligus makan siangnya.
Hari ini ditutup oleh penghasilan yang lumayan dari Mat Garang & Tinah.

Semburat cahaya jingga kemerahan mulai surut dari ufuk barat, panggilan Ilahi terdengar dari sebuah surau yang tak seberapa jauh dari kumpulan warung kopi yang cuma buka dari petang hingga subuh. Mat Garang sedang duduk menghadapi minuman kesukaannya soda gembira sambil menanti kedatangan Tinah. Sedari keluar siang tadi mereka belum pulang ke rumah. Tinah pun datang diantar ojek, Mat Garang membayar minumannya, mereka pun beranjak jalan kaki menuju rumah. Tinah yang hitam manis berambut sebahu itu menggelayut manja di lengan Mat Garang.

Sesampai di rumah masing-masing mengeluarkan perolehan hasil kerjanya hari ini, terkumpul semua hampir Rp. 400 ribu. “Say, aku simpan Rp. 50 ribu untuk beli bedak,” kata Tinah.
“Ambillah, sisanya kita beli sepaket, kita pake berdua, ya say,” ujar Mat Garang. Tinah mengambil selembar uang sambil mengangguk.

Mat Garang & Tinah sudah terbiasa memakai psikotropika. Penghasilan mereka setiap hari selain buat beli miras, juga untuk psikotropika. Kepercayaan diri Mat Garang terasa kurang tanpa barang-barang laknat itu, begitupun Tinah. Urusan perut tak begitu mereka kuatirkan. Di rumah mereka tak ada tempat masak, beli nasi bungkusan & air kemasan. Rumah bagi keduanya cuma untuk berteduh, melepas penat & kerinduan, serta hasrat libido. Mereka sudah akrab dengan pola hidup demikian yang akan dijalani entah sampai kapan hingga malaikat kebaikan datang membimbing mereka, atau iblis durjana semakin menjerumuskan mereka.
Kehidupan terus berlangsung, namun hidup akan tiba pada ambang batas yang telah ditentukan. Mereka, kita semua hanyalah laksana boneka mainan di panggung akbar kehidupan, berimprovisasi, namun akhirnya mesti tunduk kepada skenario yang ditetapkan oleh Sang Maestro Tunggal.

(Jangan tersinggung bila catatan singkat ini mirip dengan kondisi & perjalanan hidup anda, ini cuma rekaan, kemungkinan nyata atau fiksi adalah berbanding 50 : 50)

CM 2 ML (Call Me to Make Love).

Malam semakin beranjak menuju pagi, jarum jam sudah 1 strip melewati angka 12, dari kejauhan sayup-sayup terdengar lolongan anjing liar.
Di sudut kota, di sebuah rumah sedang berkumpul beberapa wanita belia. Mereka belum tidur, mereka sedang menikmati seloki demi seloki minuman keras dari golongan C (golongan paling rendah).
Aroma alkohol dan asap rokok menyatu merebak menyebarkan bau yang memusingkan kepala.

Seorang wanita setengah tua diantara mereka dari tadi terus sibuk melakukan panggilan melalui ponsel. Wanita setengah baya, berkulit bersih, tinggi semampai, masih tampak seksi & cantik dalam balutan busana casual & celana panjang denim. “Sabar ya pak, saya terus menghubungi anak buah saya, kali ini pasti bisa,” kata wanita itu via ponsel kepada seorang pria lawan bicaranya.
“Saya maunya yang masih muda, cantik, tidak gemuk, dan secepatnya saya tunggu di Hotel Diamond,” sahut pria itu dengan nada berat.
“Oke pak, pasti saya penuhi selera & keinginan bapak, nanti bila sudah siap akan saya hubungi segera,” balas si wanita yang berprofesi sebagai pemasok wanita panggilan.

Si wanita setengah tua, sebut saja Bunda, berpaling kepada para wanita muda di sekitarnya. “Ina, kamu saja yang kerja malam ini, lumayan short time Rp. 500 ribu,” kata Bunda kepada Ina yang hitam manis rambut terurai.
“Wah nggak bisa Bunda, saya lagi dapet, ini lagi lancar-lancarnya darah mengucur,” sahut Ina.
“Kalau begitu kamu aja Ningsih. Tolong Bunda kali ini, Bunda tak ingin mengecewakan pak Bono, ia langganan tetap Bunda,” ujar Bunda kepada Ningsih yang berpenampilan bak artis Yuni Shara.
“Males ah, seperti kemarin malam aku nunggu-nunggu tapi si bapak nggak jadi pakai,” balas Ningsih.
“Kali ini dia pasti pakai kok, tolonglah Ning,” mohon Bunda lagi.
Tapi Ningsih tetap pada tolakannya untuk tak mau kerja. Begitupun 2 rekan Ningsih lainnya menolak untuk “kerja pakai” malam itu.

Bunda semakin gelisah, ponselnya berdering lagi. “Mana, mana orangnya kok belum muncul kesini ?” tak sabar nada suara pak Bono terdengar di ponsel.
“Ya, sebentar, saya lagi mau menghubungi Dewi anak buah saya yang lain,” sahut Bunda yang kemudian menutup telpon.

“Tolong minta nomer ponsel Dewi,” pinta Bunda kepada wanita yang ada disitu.
Tak berapa lama kemudian terdengar Bunda sudah berbicara dengan seseorang melalui ponsel. “Ada apa Bunda ? Tengah malem gini nelpon ?” Sahut seorang wanita dengan suara serak.
“Wi, tolong Bunda Wi, ada langganan Bunda mau pake kamu malam ini, short time Rp. 500 ribu, mau ya Wi,” pinta Bunda dengan suara agak memelas.
“Mau aja asal nunggu saya bersih-bersih & dandan dulu,” sahut suara yang rupanya Dewi.
“Syukurlah Dewi mau, lumayan hasilnya untuk beli tambahan setengah paket lagi,” gumam Bunda yang rupanya pecinta psikotropika itu.

Seperempat jam kemudian ponsel Bunda berdering, “Ayo Bunda, jemput, saya sudah siap nih,” suara Dewi jernih.
“Ya, tunggu disitu Bunda jemput,” balas Bunda.
Sambil pamit kepada yang sedang menenggak miras, Bunda meninggalkan rumah di sudut kota itu. Langkah Bunda sudah bertenaga, air mukanya cerah meski gagal menyembunyikan kerut-kerut di samping kelopak matanya.
Tak lama terdengar suara derum sepeda motor Bunda meninggalkan rumah, suara itu makin mengecil hingga tak terdengar.
Kini tinggal para wanita yang sedang menghabiskan seloki terakhir minuman mereka untuk kemudian beranjak ke peraduan, membayangkan hari esok yang belum pasti, menggapai impian yang terlampau sulit, dan mempertahankan sebujur tubuh yang pada gilirannya akan membusuk & disantap cacing tanah.

(Bila ada kesamaan karakter, nama & tempat, cuma kebetulan, catatan kisah ini cuma rekaan)